Current Issues

Peneliti Temukan Hanya 13 Persen Kasus Covid-19 Yang Disertai dengan Gejala

Ahmad Redho Nugraha

Posted on February 14th 2021

Salah satu hal yang paling berbahaya tentang pandemi Covid-19 adalah, pengidapnya dapat tanpa sadar menyebarkan virus jauh sebelum dia tahu jika dirinya mengidap Covid-19. Penyakit ini memang kerap muncul dan menjangkiti penderitanya tanpa menunjukkan gejala.

Hingga saat ini, ilmuwan masih terus meneliti rasio penyebaran kasus Covid-19 tanpa gejala yang terjadi secara diam-diam di masyarakat. Lembaga Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat memperkirakan jika sebanyak 40% dari total jumlah kasus Covid-19 tergolong kasus tanpa gejala. Penelitian yang mereka lakukan Januari lalu juga mengungkap jika 50% transmisi SARS-CoV-2 terjadi lewat orang tanpa gejala (OTG).

Kini, penelitian baru menemukan jika lebih banyak infeksi yang tergolong kasus tanpa gejala. Peneliti dari Universitas Chicago membuat sebuah model dengan hasil tes antibodi di New York City sejak Maret hingga April.

Hasil pengujian menggunakan model tersebut menemukan jika hanya 13% hingga 18% total kasus Covid-19 yang disertai gejala. Angka tersebut sama dengan satu dari lima, atau satu dari tujuh kasus.

"Ada banyak sekali jumlah OTG, jauh lebih banyak dari yang disimpulkan banyak penelitian selama ini," Rahul Subramanian, salah satu penulis artikel ilmiah tersebut mengatakan kepada Insider.

Kasus tanpa gejala sulit dideteksi dan dihitung, karena OTG yang merasa sehat tentu saja tidak akan memeriksakan dirinya ke dokter.

Model yang dibuat Subramanian mampu memisahkan antara kasus bergejala dan kasus tanpa gejala yang tidak terdeteksi karena minimnya instrumen pengujian.

Hasil temuan tim Subramanian lebih tinggi dari peneliti lain dikarenakan model penelitian mereka menggunakan definisi yang lebih luas tentang kasus tanpa gejala. Mereka memasukkan sampel penderita Covid-19 dengan gejala sangat ringan yang bahkan tidak pernah berkontak dengan sistem pelayanan kesehatan.

Lebih lanjut, Subramanian mengatakan jika penelitiannya menemukan jika sebagian besar kasus Covid-19 tidak disertai gejala.

Para peneliti saat ini memperkirakan jika nilai reproduktivitas virus korona adalah 2 hingga 3, yang berarti jika penderita Covid-19 rata-rata dapat menginfeksi dua hingga tiga orang lain. Jika model Subramanian terbukti efektif, maka virus korona mungkin selama ini menyebarkan dengan lebih muda dibandingkan yang diperkirakan para ilmuwan selama ini.

Salah satu skenario yang diperkirakannya adalah, kasus tanpa gejala dapat mendorong transmisi sama cepatnya seperti kasus dengan gejala, sehingga nilai reproduktivitas pengidap Covid-19 menjadi tiga hingga empat.

Skenario lainnya memperkirakan jika sejumla kecil pengidap Covid-19 dengan gejala adalah pihak yang lebih utama dalam mendorong transmisi virus, sehingga orang-orang ini mungkin mendorong nilai reproduktivitas menjadi empat hingga delapan..

Subramanian mengatakan jika kedua skenario itu sama-sama didukung oleh model buatannya. Model tersebut mengatakan jika infeksi dari OTG berkontribusi terhadap transmisi Covid-19, setidaknya sebanyak 50% dari total jumlah infeksi.

Subramanian mengatakan jika di New York yang sebanyak 22% populasinya telah terinfeksi Covid-19 sejak April 2020 lalu tetap saja akan sulit menumbuhkan herd immunity, terutama karena kemunculan strain virus korona baru yang telah menyebar di dunia.

"Dengan varian terbaru Covid yang nilai reproduktivitasnya lebih tinggi, kemungkinan virus akan tetap menyebar meski jumlah orang yang dapat diinfeksi telah berkurang," tukasnya. Dia mengutarakan jika langkah awal untuk mencegah penyebaran lebih masif adalah dengan mengidentifikasi jumlah kasus tanpa gejala sediini mungkin. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Hari Ini Vaksinasi Dimulai, Seperti Apa Kehidupan Pasca Divaksin?

Current Issues
Apakah Kehidupan Akan Normal Ketika Banyak Orang Sudah Divaksin Covid-19?

Current Issues
Vaksinasi Sudah Dimulai. Kira-Kira Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir?