Current Issues

Anak Muda di AS Bangkitkan Lagi UMKM di Chinatown Lewat Gerakan Sosial

Ahmad Redho Nugraha

Posted on February 12th 2021

Pandemi memang berdampak negatif terhadap aktivitas bisnis di seluruh dunia, terutama bisnis dalam skala UMKM. Terutama bisnis UMKM milik orang Tionghoa di kawasan pecinan atau chinatown.

Penelitian Paul Ong dari University of California Los Angeles (UCLA) membuktikan hal tersebut. Data dari International Trade Center pada 2020 lalu menunjukan jika bisnis di pecinan lebih cepat tutup atau bangkrut di masa pandemi. Dibandingkan bisnis di tempat-tempat lain. Xenofobia diduga menjadi salah satu faktor kunci dalam memancing kondisi tersebut.

Menghilangnya pecinan dan usaha-usaha kecil di dalamnya tidak hanya akan mengancam ekonomi masyarakat, tetapi juga akar budaya Tionghoa yang ada di pecinan tersebut. Demi mengatasi hal tersebut, berbagai kampanye media sosial digalakkan oleh para pecinta chinatown, khususnya kulinernya di sepanjang tahun.

Tujuan dari kampanye tersebut sederhana, yaitu menarik turis dan penggemar chinatown untuk kembali berkunjung ke pecinan terdekat dan menghidupkan kembali roda perekonomian di pecinan.

Send Chinatown Love adalah salah satu grup sukarelawan di balik gerakan-gerakan tersebut. Kelompok ini sebagian besar diisi oleh anak muda millenials keturunan Asia Timur yang tinggal di New York.

Selain Send Chinatown Love, ada pula Welcome to Chinatown yang juga berbasis di Kota New York. Kedua kelompok sukarelawan ini membantu bisnis-bisnis kecil di pecinan New York mengupulkan penghasilan hingga ratusan ribu dolar. Mereka juga membantu bisnis-bisnis kecil untuk membuat aplikasi pesan-antar dan mengembangkan media sosial untuk mereka.

"Ini adalah surat cinta kami untuk Chinatown karena orang-orang di dalamnya telah mengambil risiko dan bekerja begitu keras sehingga banyak anak-anak muda dari Asia dapat sukses seperti sekarang," ujar Louise Palmer, salah seorang volunteer di Send Chinatown Love.

Sementara itu, Jennifer Tam, co-founder Welcome to Chinatown mengatakan jika organisasi yang diasuhnya telah mengumpulkan lebih dari setengah juta dollar yang akan diberikan kepada para pengelola bisnis.

"Masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar usaha-usaha ini dapat memperoleh akses terhadap sumber dana," terang Tam.

Salah satu bisnis pecinan yang terdampak pandemi di London adalah perusahaan makanan ritel dan grosir SeeWoo. Perusahaan ini sudah ada sejak 1975. Kini pendapatan perusahaan ini terjun bebas hingga 70 persen, dibandingkan tahun sebelumnya ketika pandemi belum melanda dunia.

Meski demikian, SeeWoo cukup optimis dalam menghadapi pandemi. Sebab mereka baru saja meluncurkan jasa pesan-antar online. Lucy Tse-Mitchell, Direktur SeeWoo yakin jika pecinan akan dapat berevolusi menjadi versi yang lebih baik dengan menjangkau konsumen yang lebih muda.

"Pandemi telah mempercepat proses evolusi. Menurutku semua ini (pandemi) akan membuat kita tumbuh dari kuat menjadi lebih kuat," tukas Tse-Mitchell.(*)

Related Articles
Current Issues
Penelitian: Bisnis di Chinatown Paling Terdampak Selama Pandemi

Current Issues
Varian Baru Virus Corona Muncul di Perancis, Bisa Bersembunyi dari Tes Standar

Current Issues
Kasus Covid-19 Naik Dratis, Pemerintah Perketat PPKM Mikro