Current Issues

Penelitian: Bisnis di Chinatown Paling Terdampak Selama Pandemi

Ahmad Redho Nugraha

Posted on February 12th 2021

Imlek seharusnya menjadi hari berbahagia bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Namun dengan kondisi pandemi yang masih melanda dunia, banyak dari mereka yang merayakan Imlek terpaksa tidak pulang kampung, dan menghabiskan liburan panjangnya di tempat tinggal masing-masing.

Selain mencegah orang dari mudik, pandemi di masa Imlek juga berdampak pada meredupnya aktivitas bisnis di pecinan (chinatown) yang ada di seluruh dunia. Bahkan pecinan besar seperti yang ada di New York pun tampak sepi dalam Imlek tahun ini.

Joanne Kwong, pemilik toko Pearl River di pecinan New York yang sudah beroperasi selama 50 tahun terakhir terpaksa menutup usahanya di malam Imlek, yang ironisnya sebelum ini selalu menjadi malam paling ramai di tokonya.

"Pendapatan yang kami dapat sama sekali tidak sebanding dengan ongkos sewa, dan itu sudah berlangsung selama 13 bulan terakhir," ujar Kwong.

Pecinan New York bukan satu-satunya pecinan yang terdampak keras oleh pandemi. Pecinan di London, Sydney bahkan seluruh dunia mengalami penurunan omzet drastis sejak tahun lalu ketika pemerintah memberlakukan lockdown di berbagai tempat.

"Ini semua melelahkan. Aku tahu jika semua bisnis tersebut kesulitan, sama seperti kami. Semua perubahan ini (akibat pandemi) bersifat permanen. Banyak dari kami (pebisnis di pecinan) yang tidak akan berhasil melewatinya. Menakutkan," ujar Kwong, dilansir dari VOA.

Meski demikian, Kwong yakin jika akan ada beberapa bisnis terkenal yang berhasil bertahan melalui pandemi berkat penjualan online dan toko-toko sampingan.

UMKM sebagai perusahaan konvensional yang mempekerjakan banyak pegawai menjadi jenis usaha yang terdampak paling keras di seluruh dunia. Data tahun 2020 dari International Trade Center juga menempatkan UMKM di peringkat kelima sebagai jenis usaha yang paling mungkin tutup permanen dalam beberapa bulan sejak pandemi.

Dampak tersebut menjadi berkali-kali lipat lebih menyakitkan bagi UMKM yang beroperasi di pecinan. Bukan hanya karena pandemi, tetapi juga karena xenofobia yang berkembang di antara sebagian masyarakat dunia terkait Covid-19 yang berasal dari Tiongkok. Sebagian UMKM juga kesulitan bertahan karena terlalu bergantung pada transaksi tunai.

Paul Ong, peneliti senior dari University of California Los Angeles (UCLA) menemukan jika usaha di kompleks pecinan cenderung mengalami penurunan penjualan lebih cepat dan lebih tajam dibandingkan area lain di Los Angeles di masa lockdown.

Hal tersebut diindikasikan dengan menurunnya jumlah kunjungan ke pecinan langsung setelah kabar penyebaran Covid-19 dari Tiongkok beredar. Xenofobia juga terjadi dalam konteks kekerasan terhadap berbagai masyarakat beretnis Asia di wilayah AS dalam waktu setahun terakhir.

Ditutupnya banyak usaha di pecinan tidak hanya akan melemahkan ekonomi masyarakat pecinan, tetapi lebih dari itu, juga mengancam hilangnya berbagai warisan budaya yang melekat di pecinan. Hal tersebut diungkapkan oleh Freya Aitken-Turff, kepala organisasi kebudayaan Tionghoa di Pecinan London, China Exchange.

"Sangat sedikit sejarah dan warisan di wilayah ini yang didokumentasikan dan direkam secara baik. Jika bisnis-bisnis tersebut menghilang, dan keluarga-keluarga di baliknya tidak lagi mampu menyokong kehidupan mereka, maka semua cerita tersebut akan hilang," terangnya.

Jumlah usaha yang dimiliki orang Asia di AS turun hingga 26 persen di masa pandemi. Lebih banyak dibandingkan jumlah penurunan usaha orang kulit putih, yang mencapai 17 persen.

"Semua ini bukan penurunan yang alami. Ini adalah bagian dari ketidaksetaraan sistemik yang terjadi. Kita perlu memberikan lebih banyak perhatian terhadap orang-orang di sekitar mereka, agar mereka dapat tertolong," tukas Ong yang selama ini kerap meneliti tentang bisnis milik kaum minoritas di AS, termasuk pecinan.(*)

Related Articles
Current Issues
Anak Muda di AS Bangkitkan Lagi UMKM di Chinatown Lewat Gerakan Sosial

Current Issues
Lockdown Lagi, Skotlandia Beri Status Ilegal Bagi Warga yang Tinggalkan Rumah

Current Issues
Covid-19 Telah Mengubah Persahabatan, Apa Pertemanan Kalian Juga?