Tech

Di Inggris, Google Sepakat Membayar Konten Berita ke Media Penerbit

Jingga Irawan

Posted on February 11th 2021

Google menandatangani kesepakatan lisensi berita di Inggris. Mereka memastikan akan membayar konten ke penerbit Inggris untuk menampilkan artikel di platform Google News Showcase, bertepatan dengan perilisannya.

Dilansir dari Forbes, Kamis (11/2), upaya ini dilakukan raksasa teknologi asal Silicon Valley tersebut untuk membuktikan pada isu antitrust global bahwa sebenarnya Google mendukung industri media.

Perusahaan tersebut telah mencapai kesepakatan dengan 120 penerbit. Di antaranya, The Telegraph, Evening Standard, dan Financial Times. Perjanjian itu menentukan bahwa Google bersedia membayar biaya lisensi, yang bagi beberapa penerbit dikabarkan jumlahnya sampai jutaan dolar per tahun. Pembayaran itu dilakukan dengan kompensasi Google dapat tetap menampilkan klip berita di showcase-nya di aplikasi Google News.

"Hari ini kami mengumumkan bahwa Google News Showcase sebagai produk baru kami. Dan kami memulai program lisensi untuk berita, yang akan mulai diluncurkan bersama penerbit lokal, nasional, dan independen di Inggris," tulis Ronan Harris, direktur pelaksana Google Inggris dan Irlandia, dikutip dari Forbes.

Ia menyebtu bersama pemerintah, perusahaan lain, dan masyarakat sipil, Google berdedikasi untuk terus mendukung keberlanjutan industri media, baik di Inggris Raya maupun di seluruh dunia.

Ini juga langkah Google untuk membuktikan kepada pemerintah di seluruh dunia bahwa mereka bersedia bekerja sama dengan penerbit berita. Sebab, banyak surat kabar yang terpaksa tutup karena produk periklanan telah bergeser ke platform online, yang lebih mudah dijangkau oleh pembaca.

Pada Oktober 2020, Google telah merencanakan dana USD 1 miliar secara global untuk kemitraan dengan penerbit lewat Google News Showcase. Dan sejak itu, Google telah menandatangani perjanjian serupa dengan 450 penerbit di lebih dari sepuluh negara, termasuk Prancis, Brasil, dan Argentina.

Namun, hal ini sepertinya masih menjadi polemik di Australia. Sebab Google keberatan dengan adanya undang-undang di Australia yang memaksa raksasa teknologi -termasuk Google- membayar penerbit untuk artikel yang tampil di platform pencarian maupun di newsfeed

Google keberatan dengan kebijakan itu. Mereka justru balik mengancam bakal menarik search engine-nya dari Australia. Google menyebut hukum Australia "tidak bisa diterapkan". Mereka menunjuk lisensi News Showcase sebagai jalan tengahnya. Pekan lalu, Google News Showcase juga telah rilis di Australia dan Google bakal membayar konten yang tampil di platform sesuai dengan lisensi. 

Melihat keberanian Australia menerapkan undang-undangnya, anggota parlemen Uni Eropa mengatakan mereka juga sekarang mempertimbangkan untuk mengadopsi bagian dari undang-undang Australia tersebut. Uni Eropa berencana menjadikan dua rancangan peraturan baru yang diperuntukkan bagi perusahaan teknologi, yakni Digital Services Act (DSA) dan Digital Markets Act (DMA).(*)

Related Articles
Tech
Facebook "Unfriend", Pilih Blokir Link Berita dari Penerbit Australia

Tech
Dipaksa Bayar Royalti ke Media Australia, Google dan Facebook Ancam Pergi

Current Issues
Gara-Gara Trump Diblokir Twitter, PBB Minta Regulasi untuk Perusahaan Medsos