Current Issues

Kenapa sih Rindu Itu Berat?

I Kadek Wira Aditya

Posted on April 30th 2018

 

 

WRITTEN BY: WIRA ADITYA

 

Pernah nggak sih kamu merasa pengin bertemu seseorang secara terus-menerus? Misal, baru aja ketemu gebetan sejam lalu, tapi kamu udah merasa kehilangan aja dan pengin ketemu dia lagi. Nah, itu lah namanya rindu!

Rindu atau kangen tentu kerap kamu rasakan saat kamu udah merasa nyaman dan sayang dengan seseorang (eits, sama orang tua juga bisa loh!). Tapi, apa sih yang bikin kita, para manusia yang suka tiba-tiba galau, bisa merindu?

Beberapa waktu lalu saya mencoba mencari jawaban logisnya. Um, lebih tepatnya yang ilmiah. Beberapa artikel saya baca. Terutama dari tulisan seorang kolumnis muda asal Virginia, Amerika Serikat, di situs Odyssey. Tiffany Henson namanya.

Dari semua tulisan yang saya baca, saya mendapat garis besarnya. Nih, ternyata rindu sendiri bermula dari otak manusia yang mampu memproduksi berbagai macam hormon. Nah, hormon “cinta” yang berperan dalam hal ini yaitu, estrogen/testosterone dan oxytocine. Oh iya, hormon ini pada dasarnya dimiliki oleh laki-laki maupun perempuan. Selain itu, otak juga memproduksi neotransmitter (senyawa kimia dalam otak) berupa dopamine dan serotonine.

Mulanya otak memproduksi hormon tersebut sewajarnya dalam tubuh. Namun, ketika berada dekat dengan orang yang kita sayang tubuh memproduksi lebih cepat hormon tersebut.

Karena lebih cepat, kadar hormon pun meningkat drastis dari biasanya dan membanjiri otak. Hormon tersebut yang kemudian membuat diri merasa ‘ketagihan’ untuk ingin terus bertemu dengan seseorang. Seiring dengan itu, otak mulai terbiasa menerima itu semua.

Sayangnya ketika orang tersebut jauh dari kita, otak yang udah terbiasa dengan kondisi itu menagih kembali untuk bisa memproduksi hormon yang lebih banyak. Dengan nggak adanya ‘pemicu’ untuk memproduksi hormon dan senyawa kimia tersebut, otak akan sangat kesulitan untuk bisa memenuhi kebutuhan otak memproduksi hormon.

Ini lah yang kemudian dibilang Dilan, “Rindu itu berat”.

Karena otak nggak mampu untuk memproduksi hormon tersebut secara mandiri. Dia butuh orang lain. Karena hanya itulah cara agar otak dapat memproduksi hormon lebih banyak lagi (sesuai kebiasaanya), yaitu dengan bertemu orang yang dirindukan. Andai otak bisa berbicara, udah pasti dia yang berkoar-koar, “Duh dek, abang rindu nih!”.

Nggak berhenti di situ, otak yang merasa “berat” tadi juga berdampak pada mimik (raut wajah) manusia yang akan menunjukkan depresi dan stres karena rindu yang tak tersampaikan. Tuh kan, rindu itu memang berat. Biar Dilan aja yang nanggung, kamu nggak usah. Berat.

Well, kalau memang rindu, mending ajak ketemuan deh! Atau kalau memang nggak bisa ketemuan, psikolog Rumah Cinta Bogor, Retno Lelyani Dewi, nyaranin kamu untuk mengalihkannya dengan menyibukan diri sendiri.

“Misalnya dengan luangin waktu sama sahabat atau pun keluarga bisa jadi pengalihan supaya rindu yang nggak kesampaian nggak jadi beban buat diri sendiri. Kan sayang ya, banyak waktu yang harusnya bisa dijalanin enjoy, malah harus kepikiran dan jadi stres,” ungkapnya.

Saya sendiri sih kalau lagi rindu bukan cuman pengin ketemu aja. Tapi kuingin dipeluk :3 (*)

Related Articles
Current Issues
Podcast, (Masih Jadi) Media Audio Masa Depan (?)

Current Issues
Pembatasan Kurang Efektif, Covid-19 di Indonesia Bisa Meledak Seperti di Italia

Current Issues
Mengenang 6 Tahun Tragedi Tenggelamnya Kapal Feri Sewol dan Pemakzulan Presiden